Skip to main content

3 Rekomendasi Gim Jadul di Senandung


Apakabar kawan SenandungWaktu? Kali ini kita bersenandung bukan hanya bercerita tentang sejarah Indonesia tempo doeloe, meskipun SenandungWaktu.com sudah menjadi merk tersendiri dan menjadi sumber blog-blog sejarah lain baik dalam maupun luar negeri tentang sejarah-tokoh sejarah Indonesia yang mungkin belum pernah diceritakan di blog lain bahkan di buku sejarah sekalipun. Meski demikian keabsahan cerita sejarah di SenandungWaktu bisa kami buktikan melalui saksi-saksi sejarah yang menyaksikan bahkan mengalami cerita sejarah itu sendiri.

Kali ini pembahasan SenandungWaktu tidak akan berat-berat mengulas sejarah individu tokoh sejarah Indonesia, namun kita coba sedikit rileks dengan gim-gim jadul yang bisa kamu mainkan dan kita rekomendasikan untuk dimainkan kembali sebagai pengingat bahwa gim tersebut pernah "viral" pada masanya.

Sekarang ini masanya gim melalui aplikasi android atau ios. Ya betul sekali, beragam gim ditawarkan, baik gim dengan performa biasa-biasa hingga gim yang membutuhkan memori besar. Hanya saja kekurangannya adalah kita harus menginstal gim tersebut di smartphone kita dan mengizinkan beragam ketentuan yang bisa merubah pengaturan smartphone kita dan itu cukup berbahaya jika kita sembarangan "allow" pengaturan yang diwajibkan gim tersebut dan belum lagi ada iklan yang banyak berseliweran yang mengganggu bahkan bisa merusak atau memenuhi memori smartphone kita dan akhirnya smartphone menjadi lambat kinerjanya.

SenandungWaktu merekomendasikan gim online yang tidak perlu diinstall terlebih dahulu dan tidak ada iklan berseliweran yang mengganggu, aman juga untuk anak-anak dan mudah penggunaannya. Gim tersebut bisa dimainkan melalui smartphone ataupun PC dengan cukup membuka browser favorit kamu dan ketikan https://plays.org/ dan berikut 3 rekomendasi gim jadul yang bisa kamu mainkan:

Tetris
Di plays.org game ini disebut Tetra Block, gim ini jelas disadur dari gim Tetris yang sangat viral di era tahun 90'an dan SenandungWaktu mencoba memainkannya kembali dan berhasil sampai di level 7. Kalau kamu ingin mencoba gim Tetra Block ini bisa klik disini.



Pac-Man
Pac-Man di plays.org bernama Mathman, Pac-Man sendiri diterbitkan franchise video game Jepang, dikembangkan oleh Bandai Namco Entertainment dan SenandungWaktu mencoba memainkan Mathman dan berhasil hinggal level terakhir atau level 5 dan best level yang didapatkan di level 3. Untuk mencoba gim Mathman, klik disini.


Bomber Man
Seperti halnya Pac-Man, Bomber Man pun gim era 90'an yang viral pada masanya Bomberman franchise video game yang awalnya dikembangkan oleh Hudson Soft dan dimiliki oleh Konami. Di Plays.org sendiri Bomber Man bisa kamu mainkan dengan nama Balloon Bomb Online atau Santa Bomber 3D.




Selain 3 rekomendasi gim jadul diatas, masih banyak gim-gim jadul lain yang ditawarkan di situs plays.org/games yang kita bisa bernostalgia dengan gim-gim tersebut mengingat masa keemasannya pada tempo doeloe.

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak