Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

SURAT BERTINTA DARAH DARI OTO ISKANDAR DI NATA, SANG PENCIPTA PEKIK MERDEKA

Salam adalah sebuah kata yang khas dan digunakan oleh komunitas tertentu dengan harapan dapat menyatukan visi dan misi diantara mereka. Sebagaimana kaum muslimin menggunakan kalimat Assalamua’alaikum maka bangsa Indonesia pun ketika baru merayakan kemerdekaan bangsanya membutuhkan sebuah salam nasional yang fungsinya selain seperti tertulis diatas juga menjadi pembeda bagi mereka berjiwa republiken dan yang pro penjajah. Untuk itulah kata merdeka diciptakan, dan menjadi popular karena peran Bung Karno. Adapun salam merdeka lebih tepat disebut pekik karena pengucapannya harus disertai semangat. Sayang sekali Bung Karno tidak menyebut secara eksplisit siapa pencipta pekik merdeka tersebut. Ia hanya menyebut bahwa pada tanggal 19 Agustus 1945 dirinya berbincang – bincang dengan Oto Iskandar Di Nata (Otista) mengenai perlunya pekik yang dapat menggelorakan jiwa seluruh rakyat Indonesia. Yang diusulkan pada waktu itu baru kata “Hidup”, “Indonesia”, “Indonesia Merdeka”. Berlainan deng

FITNAH PKI TERHADAP BUNG TOMO

Bung Tomo dalam sebuah pertemuan bersama Bung Syahrir Setiap tanggal 10 November, rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Adapun mengapa hari itu ditetapkan sebagai hari pahlawan karena pada hari itu terjadi pertempuran rakyat Surabaya melawan sekutu yang mencerminkan semangat pantang menyerah  rakyat Indonesia pada umumnya. Dan semangat pantang menyerah tersebut antara lain dibakar oleh pidato – pidato Bung Tomo. Bung Tomo tidak pernah melupakan kepahlawanan rakyat Surabaya, dan untuk itu ia ingin membalas budi, khususnya kepada mereka yang punya pekerjaan sebagai tukang becak. Masih terbayang di mata Bung Tomo pada pertempuran Surabaya banyak tukang becak yang ikut maju ke garis depan. Sebagai seorang yang menaruh minat besar pada masalah ekonomi, Bung Tomo bermaksud meningkatkan kesejahteraan para tukang becak yang ada di Surabaya dengan jalan membuat industri kecil yang modalnya didapat dari tabungan para tukang becak. Menurut perhitungan Bung Tomo, pada tahun 1953 ad

AIDIT BENCI HATTA

Seorang penyanyi sekaliber Iwan Fals yang sering mencemooh tingkah laku oknum pejabat yang tak patut, ternyata larut dalam rasa haru ketika mengenang Bung Hatta, tokoh sederhana, jujur, dan merakyat seperti tergambar dalam lirik lagu yang Iwan Fals nyanyikan. Memang rakyat Indonesia harus berbangga memiliki seorang tokoh seperti Bung Hatta,  seorang  “manusia langka” yang pantas dijadikan suri tauladan bagi siapapun . Tetapi ternyata ada juga lho manusia Indonesia yang benci Bung Hatta setengah mati, siapa dia ? Jawabnya tak lain dan tak bukan : Dipa Nusantara Aidit , ya, ketua CC PKI itu. Apa sebabnya dan apa buktinya ? Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, mari kita cermati kejadian yang dulunya justru bertolak belakang dengan judul di atas. Sebenarnya pada zaman pendudukan Jepang, Aidit dekat dengan Hatta, dan tidak terlalu menyukai Bung Karno. Ketika Aidit bekerja di kantor Putera ( Pusat Tenaga Rakyat ) di Jakarta, ia menjadi satu – satunya pegawai yang tidak mau berdiri ke

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

KONFLIK JENDERAL SOEDIRMAN DENGAN SOEKARNO

Amir Syarfifudin, Soekarno, Soedirman Perjuangan merebut kemerdekaan diperoleh melalui jalan diplomasi dan bertempur. Keduanya saling melengkapi, tetapi fakta sejarah menunjukkan pihak angkatan bersenjata sering kali merasa tidak puas dengan jalan diplomasi yang ditempuh para politisi. Seperti yang terjadi pasca Serangan Umum 1 Maret 1949 yang telah berhasil membuat kedudukan Belanda terjepit. Mereka akhirnya tak berdaya mematuhi desakan dunia intenasional untuk segera berunding dengan pihak kita, yang tentu saja harus didahului dengan pelaksanaan gencatan senjata. Presiden Soekarno pun segera mengeluarkan instruksi agar TNI melaksanakan gencatan senjata, tetapi Jenderal Soedirman yang sudah tidak percaya terhadap Belanda menyatakan tidak adapat mematuhi perintah tersebut., maka tanggal 2 Agustus 1949 Jenderal Soedirman minta diantar Kol.A.H. Nasution untuk menghadap Soekarno di Gedung Agung. Soekarno menerima Soedirman dan Nasution di kamar depan sendirian, karena para pejabat pe

PEMBARUAN ISLAM VERSI SOEKARNO

Berdo’a setelah membacakan teks proklamasi Kemunduran dunia Islam dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi membuat negara – negara pemeluk Islam tidak berdaya menghadapi kolonialisme dunia Barat. Dalam pandangan Soekarno, kemunduran ini disebabkan umat Islam tidak menyadari potensi kemajuan yang terkandung dalam Islam itu sendiri, yaitu elastisitas. Apabila Islam ingin maju dan dapat melawan barat, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalam menggali elastisitas dalam Islam , antara lain dalam urusan yang menyangkut bukan ibadah. Maka berdasarkan pengetahuan Islam yang diperolehnya sewaktu membaca buku di penjara Sukamiskin maupun melalui korespondensi dengan tuan Ahmad Hassan, Soekarno menawarkan gagasan pembaruan dalam Islam. Namun tak urung gagasan – gagasan Soekarno tersebut memicu kontroversi, karena Soekarno dianggap terlalu mengedepankan akal. Adapun beberapa hal mengenai  pembaruan Islam yang dimunculkan  Soekarno tapi  memicu kontroversi adalah sebagai berikut :

MENINGGALKAN ISTANA, BUNG KARNO MEMAKAI KAOS OBLONG

Ilustrasi oleh Sutarjo Setelah pidato Nawaksara ditolak MPRS, Bung Karno pun harus rela untuk turun dari kursi kepresidenan. Memang demikian perjalanan hidup manusia, kadang di atas, kadang di bawah. Namun apa yang dialami Bung Karno di masa akhir jabatannya membuat kita trenyuh, apalagi kalau dibandingkan dengan juragan Soeharto. Jenderal Soeharto memerintahkan Bung Karno untuk meninggalkan istana sebelum tanggal 17 Agustus 1967 dan sebagai gantinya disediakan guesthouse di jalan Iskandarsyah. Namun  Bung Karno berpendirian anak – anaknya tidak usah pindah ke guesthouse, tapi ke rumah ibu mereka, Fatmawati. Merasa iba, Menpora waktu itu Pak Maladi telah menyediakan enam rumah untuk putera – puteri  Bung Karno, tapi Bung Karno malah marah dan tetap pada pendiriannya semula. Selain itu anak – anak Bung Karno tidak boleh membawa apa – apa dari istana kecuali buku pelajaran, perhiasan sendiri, dan pakaian sendiri. Hal ini membuat Guntur , anak tertua Bung Karno, merasa kecewa kar

BUNG KARNO DIBUNUH PERLAHAN

Ilustrasi oleh Sutarjo, terlihat dua petugas menyita televisi dan bahan bacaan dari kamar Bung Karno yang sedang sakit. Berikut ini adalah rentetan siksaan yang sengaja diberikan oleh rezim Soeharto agar Bung Karno cepat mati setelah turun dari kursi kepresidenan : Dalam keadaan sakit, ketika hendak sarapan di Istana Merdeka, Bung Karno meminta roti bakar kesukaannya, pelayan istana langsung menjawab, “Tidak ada roti !” / “Kalau begitu, saya minta pisang saja.” / “Tidak ada pisang !’ / “Baiklah, saya minta nasi dengan kecap saja …”/“Nasinya tidak ada !”. Akhirnya hanya untuk sarapan Bung Karno harus pergi ke Bogor, ke rumah Hartini. .Tekanan seperti ini membuat sakit ginjal Bung Karno kian parah. Tak cukup di situ, ruang gerak Bung Karno dibatasi, seperti adanya  birokrasi yang menyuilitkan ketika Bung  Karno tinggal di Bogor ( wilayah Kodam Siliwangi ) dan harus berobat ke Jakarta ( Wilayah Kodam V Jaya ). Tiap mau berobat harus mengurus izin masuk kota Jakarta, repotnya bukan

PERISTIWA CILILITAN

Tidak hanya dalam tubuh TNI AD, dalam tubuh TNI AU pun konflik internal terjadi. Bermula dari adanya rapat perwira yang dipimpin Komodor Muda Hurbertus Suyono dan Komodor Udara Wiweko Supono ternyata memunculkan beberapa kritik terhadap Kepemimpinan KSAU Suryadi Suryadarma. Suryadarma dinilai lebih menganakemaskan para perwira hasil didikan Jepang dibanding didikan Belanda untuk menduduki posisi penting. Kritik Suyono ternyata membuat Mabes AU merasa dilangkahi, untuk itu Suyono dipanggil dan diperintahkan belajar ke luar negeri. Merasa dihukum, Suyono kemudian mengadu kepada menteri pertahanan dan seksi pertahanan DPR, ia mencoba menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk kebaikan AURI. Tapi tidak ada tindak lanjut dari upayanya tersebut, malah yang terjadi kemudian lebih membuatnya dongkol, Suyono dikenakan tahanan rumah selanjutnya tahanan kota. Kericuhan yang terjadi pada upacara pelantikan Komodor Muda Suyono Suyono mulai mendapat angin ketika kabinet Burhanudin Har

GARA – GARA PIDATO OMAR DANI, PRAJURIT AURI DILUDAHI

Berlangsungnya peristiwa G 30 S yang disertai pembunuhan terhadap sejumlah jenderal TNI AD membuat gempar warga Jakarta pada waktu itu. Setelah mendengar siaran RRI dari Letkol . Untung, komandan resimen Cakrabirawa yang menyatakan bertanggung jawab atas gerakan tersebut,  publik dibuat bingung ketika Angkatan Laut dan Angkatan Kepolisian menyatakan tidak tahu menahu dan tidak ikut campur dalam G 30 S,  pihak AURI melalui Laksamana Omar Dani malah memberikan tanggapan yang bernada lain, lebih lengkapnya sebagai berikut : Pada tanggal 30 September 1965 malam telah diadakan  gerakan oleh Gerakan  30 September untuk mengamankan dan menyelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi CIA.  Dengan demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh Angkatan Darat daripada anasir-anasir yang didalangi oleh subversi asing dan yang membahayakan Revolusi Indonesia. Dengan diadakannya gerakan tersebut maka subversi asing dan antek-anteknya tidak akan tinggal diam dan kemungk

TERBUNUHNYA KOL.KATAMSO DAN LETKOL. SOEGIJONO

Setelah Jakarta, Gerakan 30 September 1965 merembet ke Jawa Tengah sehingga 2 perwira di Yogyakarta menjadi korban.  Perwira tersebut adalah Kol. Katamso selaku Danrem 072/ Yogyakarta yang pada tanggal 1 Oktober 1965 berangkat ke Magelang atas panggilan Pangdam Diponegoro guna membicarakan  langkah yang harus diambil sehubungan situasi yang semakin genting karena  tersiarnya kabar G 30 S di Jakarta dan pembentukan Dewan Revolusi melalui RRI Jakarta yang kemudian diikuti oleh RRI Semarang. Sepulang dari Magelang itulah tiba – tiba datang pasukan yang sudah dipengaruhi PKI yang segera menodong Kol. Katamso lalu membawanya ke kompleks Yon L di Kentungan. Penggalian lubang tempat jenazah Katamso dan Soegijono ditimbun Sementara itu Kasrem Letkol. Soegijono diculik dari Makorem dan dibawa ke tempat yang sama dengan Kol. Katamso. Pada pukul 02.00 tanggal 02 Oktober 1965 di kompleks Yon L tersebut Let.Kol Soegijono dan Kol. Katamso dibunuh dengan cara dipukul bagian belakang kepalanya

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak