Skip to main content

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN


Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara.
Amar Soetisna
Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.
    Tetapi situasi kembali menjadi genting ketika prajurit Soetrisno dituduh pihak Jepang mencuri jatah makanan, dan oleh karenanya harus dihukum tembak. Rupanya Jepang berhasil mengadu domba para prajurit PETA sehingga Omon Abdurachman dan Astika Legono Syarif bersedia menjadi eksekutor hukuman tersebut. Kembali Poniman menjadi penengah dan hukuman pun dibatalkan yang membuat Letda. Yamamoto selaku pelatih marah besar, sebaliknya para tentara PETA mulai merasa antipati terhadapnya.    Rasa antipati tersebut semakin membuncah ketika Yamamoto menampar prajurit Danumiharja karena melakukan suatu kesalahan. Amar Soetisna yang sudah sejak dulu menyimpan benci terhadap para tentara Jepang balas memukul Yamamoto, dan Yamamoto segera pergi ke Cimahi untuk melaporkan insiden tersebut kepada atasannya. Kali ini Amar Soetisna sudah merasa tidak perlu lagi menunda rencana untuk berontak. Maka atas perintah Amar terjadilah pembunuhan terhadap Serda. Hara Gocho yang dilakukan prajurit Sodki dan Patah pada tanggal 4 Mei 1945.
    Tentu saja pihak Jepang tidak tinggal diam, mereka segera mengepung asrama PETA Pangalengan yang dilengkapi dengan panser bersenjata 12,7. Terjadi pertempuran sengit tetapi karena persenjataan yang seadanya membuat para prajurit PETA dapat dilumpuhkan. Para pelaku pemberontakan dapat ditangkap dan dibawa ke markas Kempetai di Jalan Sultan Agung Bandung. Amar Soetisna disiksa kemudian dihukum mati, sampai sekarang makamnya tidak ditemukan. Sementara itu Poniman yang tidak terlibat pemberontakan karena sedang berada di Cimahi untuk mengambil gaji prajurit turut dihukum oleh pihak Jepang karena dinilai tidak bisa membina anak buahnya. Pada akhirnya asrama PETA Pangalengan ditutup. 

Comments

  1. Trmksh banyak informasinya. Sangat berharga utk mengingatkan bhw bangsa kita adl bangsa terhormat, meskipun ada para pengkhianatnya.

    ReplyDelete
  2. Perlu di kupas lebih lanjut untuk sejarah bangsa, serta penghargaan setinggi-tingginya terutama pelaku sejarah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak