Skip to main content

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen.

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera pergi, hanya karena ada pengumuman bahwa wapres Umar Wirahadikusumah datang ke rumah duka.

"Waktu itu saya cuma bisa mengucapkan Astagfirullah al azhiem, mau protes, protes sama siapa, sama Adam Malik? Nggak bisa," kenang Nasution seperti yang tertulis dalam buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal.

Pasokan air ledeng ke rumah Nasution pun diputus sehingga ia harus membuat sumur sendiri, selain itu media massa tidak diperbolehkan memuat wawancara dan tulisan Nasution. Bahkan di Mesjid Cut Meutia yang ia bangun, setiap sholat Jum'at tentara selalu mengintai dalam posisi siap tembak agar Nasution tak naik mimbar. Cuma itu? Tidak, Nasution juga tidak diperbolehkan memenuhi undangan keluarga pahlawan revolusi yang hendak mengadakan hajatan, walau rumah mereka tidak seberapa jauh dari rumah Nasution.

Nasution juga amat kesal ketika konsep Dwifungsi ABRI yang ia buat untuk sekadar menyampaikan aspirasi ABRI dalam dunia politik disalahgunakan Soeharto untuk membuat ABRI lebih mendominasi kekuasaan. Selain itu Golkar yang Nasution dirikan dulu untuk membendung pengaruh PKI malah dijadikan mesin pengumpul suara dalam Pemilu oleh Soeharto dengan cara-cara yang tidak demokratis. Akibatnya Nasution bersumpah tidak akan mengikuti pemilu selama Soeharto berkuasa walau halaman rumahnya sempat dijadikan tempat pemungutan suara.

Ketika Nasution sudah renta dan Soeharto merasa Nasution tidak perlu lagi ditakuti, Soeharto merangkulnya kembali dengan memberi gelar Jenderal Besar. Nasution tetap mempergunakan pertemuan dibalik pemberian gelar itu untuk menyampaikan masukannya, tetapi Soeharto buru-buru pergi dengan alasan hendak buang air.

Atas berbagai hal yang menyakitkan yang ditimpakan Soeharto selama 20 tahun kepadanya, Nasution menyatakan :"Saya tidak dendam. Jangankan pada orang yang menyiksa batin saya selama 20 tahun, pada orang yang telah membunuh anak sendri pun saya tidak dendam, pulang dari Pulau Buru (anggota Cakrabirawa) datang ke rumah minta maaf, ya saya maafkan.”

Sebenarnya kalau Nasution berdiam diri dan menutup mata terhadap berbagai ketidakberesan dalam pemerintahan rezim Soeharto, maka hidupnya akan jauh dari masalah. Tetapi Nasution bukan tipe orang seperti itu, ia menolak bungkam walau tingkahnya berbuah derita panjang, sebuah sikap yang tidak bisa dimiliki sembarang orang.

Comments

  1. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'uun...

    ReplyDelete
  2. jendral nasution! saya bangga punya pahlawan seperti beliau

    ReplyDelete
  3. Betul, beliau termasuk manusia langka dari Indonesia

    ReplyDelete
  4. Negeri ini patut bangga pada pak nasution."dan selalulah percaya bahwa masih banyak org baik di negeri ini"

    ReplyDelete
  5. tapi Tuhan masih mengijinkan Pak Nas melihat rezim Orba jatuh 2,5 tahun sebelum meninggal

    ReplyDelete
  6. Hoax nih berita, bikin adu domba.

    ReplyDelete
  7. jadi yg PKI suharto apa nasution itu bisa di buktikan oleh sejarah baru yg terungkap

    ReplyDelete
  8. Kediktatoran Soeharto sudah pada tahu, jadi berita diatas bukan hoax

    ReplyDelete
  9. Masa iya Nasution PKI, PKI Madiun 48 ditumpas pasukan Siliwangi pimpinan Nasution, Nasution juga hampir terbunuh dalam peristiwa G 30 S PKI

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. dia diktator..ambisius..kejam..dalang kudeta..pembunuh..koruptor..

    ReplyDelete
  12. Pada alinea 3 sudah saya sebutkan sumber tulisan ini adalah buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal, terbitan Mizan

    ReplyDelete
  13. MediA ini kurang jelas . Thn di post jugá pas thn pilpres 2014 dimana saat itu tokoh yg diceritakan capresnya . Jadi cerita rekayasa penjatuhan salah satu calon.

    ReplyDelete
  14. Suara hati rayat jelata makanya harus banyak baca, tuh baca tentang petisi 50, atau baca tentang biogrfi Ali Sadikin, supaya nggak kuper

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak