Skip to main content

AIDIT BENCI HATTA


Seorang penyanyi sekaliber Iwan Fals yang sering mencemooh tingkah laku oknum pejabat yang tak patut, ternyata larut dalam rasa haru ketika mengenang Bung Hatta, tokoh sederhana, jujur, dan merakyat seperti tergambar dalam lirik lagu yang Iwan Fals nyanyikan. Memang rakyat Indonesia harus berbangga memiliki seorang tokoh seperti Bung Hatta,  seorang  “manusia langka” yang pantas dijadikan suri tauladan bagi siapapun . Tetapi ternyata ada juga lho manusia Indonesia yang benci Bung Hatta setengah mati, siapa dia ? Jawabnya tak lain dan tak bukan : Dipa Nusantara Aidit , ya, ketua CC PKI itu. Apa sebabnya dan apa buktinya ? Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, mari kita cermati kejadian yang dulunya justru bertolak belakang dengan judul di atas.

Sebenarnya pada zaman pendudukan Jepang, Aidit dekat dengan Hatta, dan tidak terlalu menyukai Bung Karno. Ketika Aidit bekerja di kantor Putera ( Pusat Tenaga Rakyat ) di Jakarta, ia menjadi satu – satunya pegawai yang tidak mau berdiri ketika Bung Karno dan Bung Hatta memasuki kantor tersebut. Bung Karno yang marah dengan sikap Aidit kontan membentak :”Kenapa kamu tidak berdiri ?”
Aidit menjawab :”Biasanya orang yang datang dan baru masuk memberi salam, baru kami berdiri. Ini Bung masuk tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, seperti biasanya orang Islam, ia memberi salam, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta kami berdiri. Ini system Jepang. Kami tidak bisa demikian !”

Demikian peristiwa yang dikisahkan Hatta dalam buku Bung Hatta Menjawab.  Akhirnya Hatta memindahkan Aidit ke Semarang, karena kalau terus menerus Aidit berkantor di Jakarta pasti akan selalu berselisih dengan Bung Karno, mengingat kedua orang ini tak mau mengalah.

Zaman berganti. Tahun 1948 PKI melakukan pemberontakan di Madiun. Hatta yang waktu itu menjadi perdana menteri memerintahkan TNI untuk menumpas pemberontakan itu, dan berhasil. Hal inilah yang membuat Aidit membenci Hatta, dan hal itu ia tunjukkan ketika berpidato pada sidang DPR 11 Februari 1957 :

“Saya katakan ( peristiwa Madiun ) sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Hatta, karena Hattalah yang menjadi Perdana Menteri ketika itu. Tapi karena Hatta tahu bahwa pengaruhnya sangat kecil di kalangan Angkatan Perang dan alat-alat negara lainnya, apalagi di kalangan masyarakat, maka Hatta menggunakan mulut Sukarno dan meminjam kewibawaan Sukarno untuk membasmi Amir Syarifuddin dan beribu-ribu putera Indonesia asal suku Jawa. Ini, sekali lagi, kalau kita mau berbicara dalam istilah kesukuan yang sekarang banyak dilakukan oleh pembela-pembela kaum pemberontak di Sumatera, sesuatu yang sedapat mungkin ingin kami hindari.”

Lebih lanjut Aidit mengatakan :
“Demikianlah, "kebijaksanaan" Hatta sebagai Perdana Menteri dalam menghadapi persoalan-persoalan masyarakat dan persoalan politik yang kongkrit. Karena kepicikannya dari kesombongannya sebagai borjuis Minang yang ingin melonjak cepat sampai ke angkasa, karena kehausannya akan kekuasaan, karena kepala batunya, karena ketakutannya yang keterlaluan kepada komunisme, maka Hatta sebagai Perdana Menteri dengan secara gegabah mengerahkan alat-alat kekuasaan negara untuk menculik, membunuh dan mengobarkan perang saudara. Orang sering salah kira dengan menyamakan sifat kepala batu Hatta dengan "kemauan keras" atau sikap yang "konsekwen". Tetapi saya yang juga mengenal Hatta dari dekat berpendapat, bahwa sifat kepala batu Hatta adalah disebabkan karena sempit pikirannya, dan karena sempit pikirannya ia tidak bisa bertukar pikiran secara sehat, tidak pandai bermusyawarah dan tahunya hanya main "ngotot", "mutung", "basmi" dan "tangan besi". Dan apa akibatnya permainan "basmi" dan "tangan besi" Hatta? “

Wow, bukan main hebatnya ejekan Aidit terhadap Hatta ! Berbanding terbalik dengan sikapnya pada masa pendudukan Jepang, pada tahun 50-an dan 60-an Aidit justru membenci Hatta dan menyanjung- nyanjung Bung Karno. Sidang pembaca dapat menyimpulkan sendiri, bagaimana pribadi orang yang berani mengejek Bung Hatta tersebut !

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak