Skip to main content

BUNG KARNO DIBUNUH PERLAHAN

Ilustrasi oleh Sutarjo, terlihat dua petugas menyita televisi dan bahan bacaan dari kamar Bung Karno yang sedang sakit.
Berikut ini adalah rentetan siksaan yang sengaja diberikan oleh rezim Soeharto agar Bung Karno cepat mati setelah turun dari kursi kepresidenan :

  1. Dalam keadaan sakit, ketika hendak sarapan di Istana Merdeka, Bung Karno meminta roti bakar kesukaannya, pelayan istana langsung menjawab, “Tidak ada roti !” / “Kalau begitu, saya minta pisang saja.” / “Tidak ada pisang !’ / “Baiklah, saya minta nasi dengan kecap saja …”/“Nasinya tidak ada !”. Akhirnya hanya untuk sarapan Bung Karno harus pergi ke Bogor, ke rumah Hartini. .Tekanan seperti ini membuat sakit ginjal Bung Karno kian parah. Tak cukup di situ, ruang gerak Bung Karno dibatasi, seperti adanya  birokrasi yang menyuilitkan ketika Bung  Karno tinggal di Bogor ( wilayah Kodam Siliwangi ) dan harus berobat ke Jakarta ( Wilayah Kodam V Jaya ). Tiap mau berobat harus mengurus izin masuk kota Jakarta, repotnya bukan main.
  2. Pertengahan Desember 1967, dalam keadaan sakit datang surat perintah agar Bung Karno meninggalkan paviliun Istana Bogor , surat perintah datang jam 8 dan jam 11 hari itu juga Bung Karno harus pergi. Sukarno harus terpisah dari Hartini, tinggal di Puri Bima Sakti Batutulis, Bogor.
  3. Dokter Soerojo yang merawat Soekarno sering mengeluh karena fasilitas yang ia minta tak pernah diperhatikan pemerintah. Untuk memeriksa darah Bung Karno, ia menggunakan lab kecil milik IPB, itu juga dengan menyembunyikan nama Bung Karno.
  4. Diduga obat – obatan yang diberikan pada Bung Karno malah membuat sakitnya  makin parah, sehingga suatu waktu Rachmawati dan Hartini bersekongkol memberikan kapsul kosong pada Bung Karno. Makanan yang diberikan juga sekenanya, ikan asin disodorkan  pada Bung Karno padahal ia menderita darah tinggi.
  5. Setelah keluarganya mengemis – ngemis pada Soeharto agar Bung Karno dipindahkan ke Jakarta karena hawa Bogor mengakibatkan Bung Karno sering kambuh rheumatic, maka Bung Karno dipindahkan ke Wisma Yaso. Tetapi disana Bung Karno makin terpenjara karena tidak boleh dikunjungi istri dan anak – anaknya, lebih buruk sewaktu dipenjara oleh Belanda di Banceuy atau di Sukamiskin dulu. Hal ini semakin membuat Soekarno depresi.
  6. Soekarno menangis tersedu – sedu karena permintaannya untuk berjalan – jalan di Jakarta ditolak petugas, selain itu Rachmawati juga dimarahi petugas gara – gara mengajak bapaknya jalan- jalan di sekitar Wisma Yaso.
  7. Bung Karno tidak boleh menonton TV, mendengar radio atau membaca koran, Alamaaamak ..!

Diatas hanya sebagian kecil tekanan – tekanan yang diberikan Soeharto agar Bung Karno cepat mati. Hal ini membuat Bung Karno kehilangan semangat hidup, larangan untuk bertemu dengan rakyat dan keluarga serta berkomunikasi dengan dunia luar membuat Bung Karno mati sebelum mati, layaknya mayat hidup. Akhirnya dalam kondisi yang sangat menderita Bung Karno meninggal.

Sumber : Buku Masa Senja Putera Sang Fajar , Biografi Maulwi Saelan, Biografi Hartini

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak