Skip to main content

FITNAH PKI TERHADAP BUNG TOMO

Bung Tomo dalam sebuah pertemuan bersama Bung Syahrir
Setiap tanggal 10 November, rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Adapun mengapa hari itu ditetapkan sebagai hari pahlawan karena pada hari itu terjadi pertempuran rakyat Surabaya melawan sekutu yang mencerminkan semangat pantang menyerah  rakyat Indonesia pada umumnya. Dan semangat pantang menyerah tersebut antara lain dibakar oleh pidato – pidato Bung Tomo.

Bung Tomo tidak pernah melupakan kepahlawanan rakyat Surabaya, dan untuk itu ia ingin membalas budi, khususnya kepada mereka yang punya pekerjaan sebagai tukang becak. Masih terbayang di mata Bung Tomo pada pertempuran Surabaya banyak tukang becak yang ikut maju ke garis depan.

Sebagai seorang yang menaruh minat besar pada masalah ekonomi, Bung Tomo bermaksud meningkatkan kesejahteraan para tukang becak yang ada di Surabaya dengan jalan membuat industri kecil yang modalnya didapat dari tabungan para tukang becak. Menurut perhitungan Bung Tomo, pada tahun 1953 ada sekitar 40.000 tukang becak di Surabaya, jika setengahnya saja dari jumlah mereka menabung Rp.1 setiap hari, maka dalam jangka waktu sebulan akan terkumpul : 30 X 20.000 X Rp. 1 = Rp. 600.000,- .

Rencana tersebut sudah dijalanakan, tetapi karena fitnah PKI yang menyebutkan uang tersebut akan dipakai untuk kepentingan Bung Tomo pribadi, maka para tukang becak yang tadinya sudah menyetor uang kemudian ramai  ramai mengambil uang mereka kembali, waktu itu uang yang terkumpul baru Rp. 12.500,-. Adapun fitnah PKI tergambar seperti di bawah ini.

Suatu hari ayah Bung Tomo berada di warung kopi bersama temannya yang berasal dari Madura. Kebetulan si pemilik warung kopi memajang foto Bung Tomo. Kemudian datang beberapa anggota PKI ke warung tersebut memesan makan dan minuman, lalu salah seoran g diantaranya memandang foto Bung Tomo dan berkata :” Itu orang memang ganteng, tapi sayang suka nyolong duit tukang becak..”

Tentu saja ayah Bung Tomo merasa tidak enak dan menyanggah perkataan anggota PKI tadi. Orang PKI lalu bertanya, “Bapak siapa?”. Teman Bung Tomo yang orang Madura tadi dengan tersenyum sambil menimang – nimang pisau menjawab,”Ini ayahnya Bung Tomo.” Para anggota PKI segera pergi dari warung tersebut. Ini fitnah PKI yang baru ketahuan di satu tempat, belum di tempat lainnya.

Fitnah PKI terhadap Bung Tomo di atas adalah lanjutan dari konflik yang terjadi sejak PKI melalui Amir Syarifudin mendirikan Biro Perjuangan yang mengkoordinir lasyjkar -  lasykar bersenjata, dimana keberadaan Biro Perjuangan ini banyak menimbulkan friksi dengan TNI. Bung Tomo yang menjadi anggota Staf Gabungan Angkatan Perang, sering merasa jengkel dengan kebijakan Menhan Amir yang menganakemaskan para petinggi Biro Perjuangan, sehingga mereka bisa makmur mendadak dengan membeli tanah, rumah, seolah – olah revolusi telah selesai. Selain itu anggota lasykar – lasykar komunis seperti Pesindo diberi fasilitas lebih baik dari pada para anggota lasykar non komunis.

Oleh karena itu dalam sebuah rapat Bung Tomo mengajukan pendapat tentang perlunya penghematan dan pemerataan dalam tubuh angkatan perang dan lasykar. Tetapi salah seorang petinggi Biro Perjuangan yang bernama Djokosuyono kemudian angkat bicara. Dengan bahasa yang berbelit – belit ia menyalahkan pendapat Bung Tomo ini. Akibatnya Jenderal Soedirman dan Letjen. Urip Sumoharjo dengan kesal segera keluar dari ruangan rapat.

Kisah  diatas bisa menjadi bahan kajian ditengah adanya suara – suara dari sebagian pihak dewasa ini yang mengatakan bahwa PKI hanyalah anak lugu tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban rezim orde baru.

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak