Skip to main content

KONFLIK JENDERAL SOEDIRMAN DENGAN SOEKARNO

Amir Syarfifudin, Soekarno, Soedirman
Perjuangan merebut kemerdekaan diperoleh melalui jalan diplomasi dan bertempur. Keduanya saling melengkapi, tetapi fakta sejarah menunjukkan pihak angkatan bersenjata sering kali merasa tidak puas dengan jalan diplomasi yang ditempuh para politisi. Seperti yang terjadi pasca Serangan Umum 1 Maret 1949 yang telah berhasil membuat kedudukan Belanda terjepit. Mereka akhirnya tak berdaya mematuhi desakan dunia intenasional untuk segera berunding dengan pihak kita, yang tentu saja harus didahului dengan pelaksanaan gencatan senjata. Presiden Soekarno pun segera mengeluarkan instruksi agar TNI melaksanakan gencatan senjata, tetapi Jenderal Soedirman yang sudah tidak percaya terhadap Belanda menyatakan tidak adapat mematuhi perintah tersebut., maka tanggal 2 Agustus 1949 Jenderal Soedirman minta diantar Kol.A.H. Nasution untuk menghadap Soekarno di Gedung Agung. Soekarno menerima Soedirman dan Nasution di kamar depan sendirian, karena para pejabat penting lain telah berangkat ke Jakarta dalam persiapan untuk Konferensi Meja Bundar.

Dengan tegas Soedirman menyatakan tidak bisa menerima keputusan pemerintah yang melaksanakan gencatan senjata, dan untuk itu ia minta berhenti. Soekarno mencoba menjelaskan bahwa langkah yang ditempuh pemerintah nantinya bisa membuka jalan untuk mencapai cita – cita rakyat. Berkali – kali mata Soekarno tertuju pada Nasution, minta dibantu, tetapi Nasution tidak mempunyai alasan untuk menyanggah pernyataan Soedirman. Nasution mencatat itulah pembicaraan paling sengit antara presiden dan panglima TNI.

Akhirnya meledaklah tangis Bung Karno,”Kalau Saudara – saudara berhenti, maka lebih dahulu Soekarno – Hatta berhenti. Terserah APRI memimpin perjuangan, Soekarno – Hatta akan mengikuti sebagai rakyat,” katanya sambil terisak.

Jenderal Soedirman ikut menangis, demikian juga dengan Nasution. Akhirnya mereka bersalaman tanpa berkata – kata lagi, dan langsung pulang. Sore harinya, Jenderal Soedirman memanggil Nasution ke rumahnya. Sambil berbaring di tempat tidur, ia memperlihatkan surat pengunduran diri yang sudah ia teken. Tetapi Nasution membujuk Jenderal Soedirman agar ia tak menyampaikan surat itu.

“Tanpa persatuan TNI dengan Soekarno – Hatta, tak mungkin berhasil perjuangan republik, karena itu biarlah kita mengikuti Soekarno – Hatta,” kata Nasution. Ternyata Jenderal Soedirman menyetujui usul Nasution tersebut. Ia batal mengundurkan diri dan gencatan senjata pun berlangsung, diikuti dengan pulangnya tentara Belanda ke negeri mereka.        

Comments

  1. I'm really enjoying the design and layout of your website. It's a very easy on the eyes which makes it much more enjoyable for me to come here and visit more often. Did you hire out a designer to create your theme? Great work! msn hotmail sign in

    ReplyDelete
  2. Jendral Sudirman terlalu banyak dikecewakan Sukarno. Waktu perang total yg dilancarkan rakyat di Surabaya ,inggeris yg sudah terjepit dan mau menyerah, Sukarno Hatta datang atas permintaan inggeris ,rakyat disuruh menghentikan peperangan tanpa suatu perjanjian damai. Padahal itu moment tepat Sukarno melaksanakan ucapannya, inggeris kita linggis ,Amerika kita seterika. Maaf bung Karno hanya sekedar ingin menunjukan kepada sekutu bahwa beliau dipatuhi rakyatnya. Dan juga ucapan beliau yg bersejarah inggiris kita linggis Amerika kita seterika untuk meyakinkan Jepang bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan selesai perang.pak dirman mmg tidak perlu mundur walaupun tidak sejalan dg presiden Sukarno, karena beliAu jadi panglima besar diangkat dan dipilih oleh para panglima tempur dilapangan. Mungkin juga Sukarno tidak senang sama Sudirman merasa difait comlit oleh tentara ketika itu. Kabarnya Sukarno akan mengangkat mantan knil pak Urip yg lebih senior. Inilah kepingan kecil sejarah tapi berpengaruh besar dalam perkembangannya kedepan.

    ReplyDelete
  3. The borrower maintains the title of the home and maintains responsibility for property taxes and homeowner's insurance payments. mortgage payment calculator You can use our mortgage calculator ( to try how effective this strategy might be to repay your mortgage faster and also you may discover that it is very effective. mortgage calculator canada

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak