Skip to main content

PEMBARUAN ISLAM VERSI SOEKARNO

Berdo’a setelah membacakan teks proklamasi
Kemunduran dunia Islam dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi membuat negara – negara pemeluk Islam tidak berdaya menghadapi kolonialisme dunia Barat. Dalam pandangan Soekarno, kemunduran ini disebabkan umat Islam tidak menyadari potensi kemajuan yang terkandung dalam Islam itu sendiri, yaitu elastisitas. Apabila Islam ingin maju dan dapat melawan barat, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalam menggali elastisitas dalam Islam , antara lain dalam urusan yang menyangkut bukan ibadah.

Maka berdasarkan pengetahuan Islam yang diperolehnya sewaktu membaca buku di penjara Sukamiskin maupun melalui korespondensi dengan tuan Ahmad Hassan, Soekarno menawarkan gagasan pembaruan dalam Islam. Namun tak urung gagasan – gagasan Soekarno tersebut memicu kontroversi, karena Soekarno dianggap terlalu mengedepankan akal. Adapun beberapa hal mengenai  pembaruan Islam yang dimunculkan  Soekarno tapi  memicu kontroversi adalah sebagai berikut :

- Masalah tabir pemisah laki – laki dan perempuan di majelis. Soekarno pernah batal mengikuti rapat umum Muhamaddiyah di Bengkulu karena di situ ada tabir yang dipasang untuk memisahkan laki – laki dan perempuan. Seorang koresponden “Antara” menyakan hal itu pada Soekarno sambil menambahkan bahwa tabir perlu dipasang agar laki – laki dan perempuan tidak saling pandang lalu menumbuhkan hawa nafsu. Soekarno menjawab bahwa tidak ada dalil yang pasti dalam Islam untuk memasang tabir, adapun alasan tabir dipasang agar kedua pihak berlainan jenis jangan sampai saling pandang terlalu mengada – ada, ibarat Islam melarang orang berdusta maka jalan yang harus ditempuh untuk menjauhi larangan tersebut bukan dengan cara menjahit mulut kita. Bagi Soekarno, pemasangan tabir seperti diatas sama saja dengan menindas hak – hak kaum perempuan.
- Masalah pemisahan agama dan negara. Soekarno terpesona dengan gerakan Turki Muda yang dilaksanakan untuk menyelamatkan Turki dari kehancuran. Kemal Pasha, pelopor gerakan tersebut, beralasan gerakan itu diambil untuk menyelamatkan Turki dari keterpurukan menyusul kekalahan kesultanan tersebut dalam perang dunia I yang menurut Kemal Pasha disebabkan terlalu kuatnya dominasi para ulama kolot disana yang tidak pernah memakai rasio. Ambil contoh ketika para dokter di Turki menyarankan agar dikeluarkannya himbauan jangan terlalu banyak minum kopi karena menimbulkan efek samping tertentu, kaum ulama menyatakan tidak setuju karena Islam tidak mengharamkan kopi. Lalu ketika muncul wabah pes, dokter tidak leluasa melakukan pengobatan karena kaum agamawan merasa cukup melawan wabah tersebut dengan menempelkan ayat – ayat Qur’an di pintu – pintu rumah si sakit. Karena itu Kemal Pasha merombak system tatanegara Turki dengan merubah Turki menjadi sebuah negara sekuler dimana kaum ulama tidak lagi menjadi penentu kebijakan pemerintah. Terlalu kuatnya dominasi para ulama kolot dan menyerah pada takdir seperti inilah  yang dianggap sebagai pemicu kekalahan Turki pada perang dunia I. Oleh karena itu Soekarno mendukung pemisahan hubungan agama dengan negara.

Hal ini mendapat tentangan dari Natsir yang mengatakan bahwa tidak tepat kalau pendukung Kemal Pasha menyalahkan kemunduran Turki dengan menghubungkannya pada system kenegaraan Islam yang menyatukan agama dan negara. Selanjutnya Natsir berpendapat bahwa Islam membawa sejumlah aturan hukum yang mengatur struktur hidup manusia . Aturan hukum tidak akan berjalan tanpa ada kekuatan yang memaksa berjalannya hukum itu, dalam hal ini negara.

Soekarno mendebat pemikiran Natsir ini dengan mengatakan bahwa agama bukanlah paksaan. Oleh karena itu harus diusahakan agar  ajaran Islam dapat membudaya dalam kehidupan umat Islam itu sendiri.

Bermazhab = sontoloyo ? Seorang guru agama mengajarkan pada muridnya bahwa ia pernah bertemu dengan Nabi Muhamad SAW, ia juga mengajarkan bahwa setiap murid perempuan, meskipun masih kecil, mesti ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya. Tetapi karena perempuan tersebut harus diajar oleh kiai itu dan diajak bicara, maka supaya halal perempuan tersebut harus dinikahi dulu olehnya. Kiai itu bertindak sebagai penghulu sekaligus pengantin. Akhirnya kiai tersebut ditangkap polisi.

Kasus seperti ini menurut Soekarno terjadi karena umat terlalu bergantung pada ulama, termasuk ulama mazhab, tidak merdeka dalam mempergunakan akalnya untuk mengkaji Islam. Dalam hal ini Soekarno seolah mengkritik orang pesantren yang mengabaikan Qur’an dan Hadits, dan lebih menonjolkan peran para ulama. Memang bagi kelompok pesantren, sudah menjadi keharusan mengkaitkan pemahaman agama pada mahzab fiqih. Sikap kelompok pesamtren ini dipandang oleh Soekarno dapat menjerumuskan kepada taklid, bid’ah, khurafat, jumud dan lain – lain yang berpengaruh pada kemunduran Islam.

Tetapi menurut kelompok pesantren, untuk menentukan suatu hukum maka umat harus berhati – hati, tidak begitu saja menafsirkan ayat sesuai pikiran sendiri. Penghargaan terhadap para ulama bertujuan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari pengaruh unsure luar yang merusak tauhid. Lebih lanjut mengenai penyebutan jumud yang dikeluarkan Soekarno tehadap orang pesantren tidaklah tepat. Menurut Moehlis, sebutan  tersebut harus ditujukan kepada mereka yang tidak suka menggunakan akal untuk mengatur masalah keduniaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Contoh orang yang jumud menurut Moehlis adalah ulama yang tetap meniru kebiasaan nabi menggosok gigi dengan akar kayu, padahal sekarang tersedia sikat gigi. Demikian pula kepada ulama yang membaca khotbah dalam bahasa Arab, padahal jamaahnya tidak mengerti bahasa tersebut.

Kisah Air Liur Anjing menurut Natsir dan Soekarno. Di majalah Pandji Islam tahun 1940, Soekarno membuat tulisan berjudul Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara. Soekarno memulai tulisannya dengan sebuah cerita tentang anaknya, Ratna Juami, yang melihat anjing kesayangannya menjilat air dalam panci.

“Papi, papi, si Ketuk (nama anjing itu, red) menjilat air dalam panci!” teriak Ratna.
“Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin,” jawab Soekarno. Ratna termenung sebentar. Kemudian ia bertanya, “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci itu mesti dicuci tujuh kali, antaranya satu kali dengan tanah?”
Soekarno menjawab, “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin. Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi tenang kembali. Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti tersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar. Demikian tulis Soekarno.

Natsir mengeritik kisah yang ditulis Soekarno itu sebagai “akal merdeka yang salah pasang”. Natsir berpendapat bahwa ajaran Nabi saw dengan mencuci tujuh kali dan satu kali dengan tanah terhadap bejana yang dijilat anjing bukan semata perbuatan “duniawi”, tapi sebagai sebuah ubudiyah yang sudah diatur caranya oleh Islam, seperti berwudhu dan lain-lain.

Jadi, kalau Soekarno mengatakan tak perlu cuci dengan tanah, cukup dengan sabun, karena zaman Nabi tidak ada sabun, maka kata Natsir, nanti akan ada yang berpendapat, kalau kita terpaksa bertayamum tak perlu dengan tanah lagi. “Dulu orang belum bisa pakai bedak wangi yang lebih higienis dari tanah, sekarang sudah ada bedak wangi. Dus, kalau mau shalat dan terpaksa tayamum, boleh berbedak saja,” sindir Natsir.

Akibat dari akal merdeka itu, kata Natsir agama bukan lagi diinterpretasi, tapi sudah dilikuidasi. Natsir menyatakan, agamalah batas-batas yang telah diberikan Ilahi agar akal merdeka berfungsi dengan semestinya, menjadi lampu petunjuk jalan dan tidak menimbulkan kebakaran yang berkobar-kobar. Dalam agama, kata Natsir, ada hikmah-hikmah tersembunyi dalam syariat-Nya.

Kesimpulan
- Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya Soekarno gagal jadi seorang pembaharu Islam, ide- ide pembaharuannya malah menimbulkan kontroversi. Tetapi bagaimanapun ide – ide pembaharuan Soekarno tersebut tidak layak masuk tong sampah begitu saja. Ide – ide Soekarno dapat dianggap sebagai pemicu konflik, dimana sebuah konflik dibutuhkan agar umat menjadi maju, dan ini dunia Islam Indonesia menjadi lebih hidup dengan adanya perdebatan antara Soekarno dan Natsir. Selain itu Soekarno telah menunjukkan kepada kita bahwa sebagai seorang pemimpin, ia telah menunjukkan perhatian yang serius terhadap Islam dengan kajian – kajiannya. Soekarno seolah mencibir para pemimpin lain yang hanya pandai dalam masalah korupsi saja.

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak