Skip to main content

GARA – GARA PIDATO OMAR DANI, PRAJURIT AURI DILUDAHI

Berlangsungnya peristiwa G 30 S yang disertai pembunuhan terhadap sejumlah jenderal TNI AD membuat gempar warga Jakarta pada waktu itu. Setelah mendengar siaran RRI dari Letkol . Untung, komandan resimen Cakrabirawa yang menyatakan bertanggung jawab atas gerakan tersebut,  publik dibuat bingung ketika Angkatan Laut dan Angkatan Kepolisian menyatakan tidak tahu menahu dan tidak ikut campur dalam G 30 S,  pihak AURI melalui Laksamana Omar Dani malah memberikan tanggapan yang bernada lain, lebih lengkapnya sebagai berikut :


  1. Pada tanggal 30 September 1965 malam telah diadakan  gerakan oleh Gerakan  30 September untuk mengamankan dan menyelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi CIA.  Dengan demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh Angkatan Darat daripada anasir-anasir yang didalangi oleh subversi asing dan yang membahayakan Revolusi Indonesia.
  2. Dengan diadakannya gerakan tersebut maka subversi asing dan antek-anteknya tidak akan tinggal diam dan kemungkinan besar akan meningkatkan gerakannya anti revolusioner.  
  3. Angkatan Udara Republik Indonesia sebagai alat Revolusi selalu dan tetap akan menyokong dan mendukung tiap gerakan yang progresif revolusioner. Sebaliknya Angkatan Udara Republik Indonesia akan menghantam tiap usaha yang membahayakan Revolusi Indonesia.
  4. Dengan ini kami perintahkan kepada segenap warga Angkatan Udara Republik Indonesia untuk tetap waspada terhadap provokasi-provokasi dan perongrongan-perongrongan dan untuk lebih meningkatkan kesiap-siagaan terhadap segala kemungkinan baik dari dalam maupun dari luar.


Jika dilihat secara sepintas, pernyataan yang disampaikan Omar Dani tersebut mengesankan dukungannya terhadap pihak pelaku G 30 S.  Dampaknya luar biasa, mobil anggota AURI ada yang ditabrak secara sengaja oleh anggota AD, tentu saja pihak AURI tak mau melawan karena kondisinya tidak memungkinkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika prajurit AURI memberikan hormat terhadap iring – iringan jenazah pahlawan revolusi, mereka malah diludahi prajurit AD yang mengendarai panser pembawa peti jenazah.

Ada apa di balik keluarnya pernyataan Omar  Dani tersebut ?  Dalam bukunya, Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, Omar Dani mengungkapkan bahwa ia memang mendapat informasi dari stafnya yang bernama Heru Atmojo bahwa pada 30 September 1965 akan terjadi gerakan pembersihan terhadap perwira – perwira korup di lingkungan TNI AD, tetapi ia sendiri belum tahu siapa para perwira yang dijadikan sasaran operasi tersebut. Omar Dani mengakui bahwa keluarnya pernyataan tersebut terlalu tergesa – gesa, ia mengira G 30 S hanya operasi biasa yang tidak berujung pada pembunuhan sejumlah perwira tinggi AD.

Tetapi hampir semua pihak sudah murka dengan pernyataan Omar Dani ini, khususnya TNI AD. Apalagi berita tentang kedatangan Aidit ke kawasan pangkalan udara Halim Perdanakusumah  juga tersiar luas dan membentuk opini bahwa Halim menjadi markas G 30 S.Maka pasukan Kostrad segera berupaya menyerbu Halim, mereka beranggapan para jenderal yang diculik ditahan disana. Rencana serangan itu cepat tersebar sehingga Presiden Soekarno yang saat itu singgah  di Halim ( karena  sebelumnya banyak pasukan tak dikenal berkeliaran di sekitar istana )  segera menyingkir ke Bogor, sementara Omar Dani terbang bersama Panglima Komando Operasi Komodor Udara Leo Watimena ke Madiun untuk menghindari konflik terbuka dengan pihak penyerang. Ternyata Leo yang temperamental malah mengirim perintah kepada Kolonel Sudarman, Komandan Wing Ops 002 PAU Abdurachman Saleh. untuk mengirimkan dua P-51 Mustang, dua pembom B-25 Mitcheldan sebuah Catalina. Maksudnya untuk menghadapi RPKAD dan Kostrad yang akan masuk ke Halim. Prasangka Omar Dani terlibat G 30 S semakin menguat ketika muncul radiogram atas nama Pangau terhadap Pangkostrad Mayjen Soeharto dengan nada mengancam : “Jangan masuk Halim, kalau masuk Halim akan di hadapi”. Lagi – lagi ini terjadi karena bahasa radiogram tersebut diketik oleh Leo.

Akhirnya pasukan Kostrad berhasil memasuki Halim dan menahan beberapa orang yang berjaga – jaga di sana, sementara ketika sampai di daerah Lubang Buaya terjadi kontak senjata dengan pasukan Bn 454 tetapi berhasil dilerai oleh Komodor Dewanto.

Selanjutnya sulit bagi Omar Dani pada waktu itu untuk membela diri sehubungan dengan pernyataan yang ia keluarkan dan berbagai bentrokan yang ditimbulkannya. Sejarah mencatat Omar Dani kemudian divonis hukuman mati namun dibebaskan tahun 1995. Jujurkah Omar Dani bahwa ia tidak terlibat G 30 S ? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, sebelum peristiwa G 30 S hubungan antara perwira AURI dan AD tidak mulus. Seperti yang diungkap Humaidi dalam skripsinya antara KSAU Suryadi Suryadarma dan KSAD A.H. Nasution terdapat gap karena Nasution pernah menangkap istri Suryadarma, Utami, yang menjadi simpatisan Gerwani sehubungan dengan keterlibatannya dalam pemberontakan PKI Madiun. Sementara itu Nasution juga sempat mengungkapkan ketika prajurit AD hendak menangkap D.N. Aidit, ketua PKI akibat pernyataannya yang memojokkan Menhankam A.H. Nasution tahun 1963, beberapa kali penangkapan gagal karena Aidit selalu berlindung pada perwira AURI. Bahkan sewaktu hubungan Bung Karnodan Nasution sedang baik – baiknya, Bung Karnopernah berujar bahwa bayak sekali laporan dari intel AURI yang bersifat negative tentang Nasution kepadanya, tetapi Bung Karno tidak pernah terpancing (lihat Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4). Sayangnya hubungan Bung Karno dan Nasution memburuk seiring sikap Nasution yang menolak nasakomisasi ABRI.

Demikianlah, sikap tergesa – gesa dalam menghadapi suatu persoalan ternyata bisa berakibat fatal, khusunya bagi mereka yang menjabat posisi strategis.

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa. Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jak