Skip to main content

MEREKA MENGANGKAT JENAZAH KORBAN G 30 S

Jenazah Brigjend. D.I. Panjaitan
Untuk mengangkat tujuh jenazah dari dalam sumur, dibutuhkan keahlian dan peralatan yang memadai. Apalagi jenazah yang dibenamkan di tempat itu sudah lebih dari satu hari, aroma yang muncul bisa membuat orang pingsan. Sementara itu kedalaman sumur yang tidak sama dengan kedalaman liang lahat, semakin menambah sulitnya upaya pengangkatan. Dengan alasan inilah pihak AD membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengangkat jenazah para perwira yang dibunuh oknum – oknum pasukan Cakrabirawa.

Maka Assiten Intel Kostrad bernama Kapten Sukendar yang diutus Pangkostrad segera menghubungi Mayjen. Hartono, Panglima KKO. Bukan pertama kali permintaan bantuan seperti ini terjadi, karena sebelumnya prajurit KKO juga berhasil menyelamatkan tank amfibi milik Kostrad yang tenggelam di Ancol. Hartono segera merespon permintaan ini dengan memanggil Lettu. Mispan ke kantornya tanggal 3 Oktober 1965 malam hari. Pada waktu itu Mispan dan rekan yang lain sedang berada di Jakarta untuk berlatih demonstrasi ketangkasan dalam rangka memeriahkan HUT ABRI 5 Oktober 1965, sedangkan pangkalan tempatnya berdinas sehari – hari berada di Surabaya.

Mispan segera berdiskusi dengan rekan se timnya, sedangkan Kapten Suhendar menunggu mereka karena tidak berani pulang ke Kostrad tanpa membawa orang – orang yang diminta bantuan. Ternyata ada satu masalah, tabung oksigen yang biasa dipakai sebagai alat menyelam milik mereka kosong sehingga mereka harus keluyuran mencari pabrik gas. Alhamdulillah sebuah pabrik gas di Manggarai menyanggupi perminttan mereka, dan pengisian oksigen dapat berlangsung pada pukul 02.00 dini hari.

Pagi harinya sebelum berangkat Mispan dan rekan sarapan dulu, hal ini membuat Kapten Sukendar yang ingin secepatnya pergi ke Lubang Buaya merasa jengkel dan tak ikut sarapan. Tapi para prajurit KKO cuek saja, karena bagi mereka sarapan itu penting. Mumpung masih ada selera, kalau sudah mengangkat mayat berbau busuk mana muingkin bisa makan. Kemudian mereka berangkat ke Lubang Buaya, eh oleh pasukan RPKAD yang berada di sana malah disambut dengan muka masam. Situasi politik yang memanas pada waktu itu membuat antar kesatuan dalam ABRI terpecah – pecah dan saling curiga, RPKAD tak percaya kalau tim KIPAM datang ke sana untuk melaksanakan perintah Pangkostrad.

Ketegangan dapat diatasi ketika Jenderal  Soeharto datang dan bertanya :”Mana anak – anak KKO yang saya minta datang ke sini ?”. Akhirnya Tim KIPAM dapat melaksanakan tugas, `hampir semua anggota Tim KIPAM bergantian mengambil jenazah. Jenazah Pierre Tendean diangkat pertama kali. Kondisi fisik semua jenazah terlihat menyedihkan, selain berbau busuk juga ada bekas pukulan dan tembakan, tubuh mereka pun terbungkus lumpur bercampur darah.

Mispan berhasil menyelesaikan operasi pengangkatan pukul 12.15. Setelah itu ia menyaksikan hal yang lucu, Kapten Sukendar yang marah pada waktu Tim KIPAM sarapan kini dalam kondisi loyo. Setelah menyaksikan pengangkatan jenazah, ia susah makan. Ketika memaksakan diri mengisi perut, bau mayat terus menerus mengikuti hidungnya sehingga Kapten Sukendar muntah berkali – kali …

Comments

Popular posts from this blog

A.H. NASUTION, SEDANG SHOLAT MALAH DIUSIR

Sudah sejak lama Soeharto menjadikan A.H. Nasution sebagai musuh yang harus disingkirkan, karena popularitas Nasution dapat mengancam kelangsungan jabatan presiden yang dipegang Soeharto. Keikutsertaan Nasution dalam kelompok Petisi 50 membuat ia semakin tidak disukai rezim Soeharto. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, rezim Soeharto tidak tinggal diam menghadapi hal ini. Sejumlah perlakuan yang tidak menyenangkan diterima para tokoh Petisi 50, termasuk Nasution sendiri. Misalnya  saat mantan wapres Adam Malik meninggal, Nasution yang pada saat itu datang melayat dan sudah dalam posisi takbiratul ikhram untuk sholat ghoib langsung didorong punggung oleh anggota pasukan pengawal presiden agar segera

PEMBERONTAKAN PETA DI CILEUNCA - PANGALENGAN

Tidak hanya di Blitar, asrama tentara PETA ada yang bertempat di Cilacap dan Pangalengan, dan di ketiga tempat tersebut semuanya terjadi pembontakan terhadap tentara Jepang. Adapun yang akan diulas disini adalah kisah pemberontakan di Pangalengan hasil penelusuran sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Amar Soetisna Seperti halnya di kedua tempat yang lain, di markas PETA Pangalengan pun tumbuh kesadaran dalam diri setiap prajurit pribumi bahwa boleh – boleh saja mereka mendapat ilmu kemiliteran dari pihak Jepang, tetapi bukan berarti harus selamanya tunduk dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ditimbulkan oleh penjajahan Jepang. Oleh karena seorang prajurit bernama Amar Soetisna mengajak rekan – rekannya untuk segera angkat senjata melawan para tentara Jepang. Namun komandan peleton Poniman ( kelak di masa Orde Baru menjabat Menhankam ) membujuk Amar untuk menunda niatnya tersebut karena kekuatan pasukan tentara PETA dinilai masih lemah.     Tetapi situasi kembali me